Senin, 19 Maret 2012

Hoki Ditolak 11 KONI Daerah

hoki kurang hoki

Kamis, 15 Maret 2012 13:14 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) daerah yang menolak cabang olahraga (cabor) hoki dan drumband di pertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 Riau kini semakin bertambah. Jumlahnya bertambah menjadi 11 dari sebelumnya hanya enam KONI Daerah.
"Setelah melakukan pertemuan, kami memutuskan untuk tetap menolak penambahan cabang," ungkap Ketua Harian KONI Jawa Timur, Dhiman Abror, usai menggelar pertemuan di Semarang.
Beberapa KONI Daerah penolak dua cabor tersebut adalah Provinsi Banten, Bangka Belitung, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sumatra Selatan. Satu lagi adalah Riau sehingga jumlah total menjadi 11 KONI Daerah.

Dhiman menyebutkan sebelas daerah ini akan kembali mengirimkan pernyataan penolakan kepada KONI Pusat. Ia merasa kecewa karena surat sebelumnya belum mendapatkan respon KONI Pusat.
Cabang olahraga hoki sepertinya kurang hoki alias kurang beruntung. Ada delapan daerah yang sudah meloloskan atletnya dalam kualifikasi pra-PON untuk cabang olahraga hoki. Namun, tujuh dari delapan daerah itu menolak mengirimkan atletnya ke PON 2012.
Hanya Jawa Barat yang tetap ingin mengirimkan atlet hokinya. "Mana mungkin cabor tersebut bisa dipertandingkan?" kata Dhiman. ''Setidaknya harus ada empat daerah yang mendaftarkan atletnya agar cabor tersebut bisa dilaksanakan.''

Sejarah tentang Hoki

Hoki  adalah olah raga tertua yang menggunakan bola dan stik. Menurut catatan, permainan ini sudah dimainkan di Persia sejak 2000 tahun sebelum masehi. Nama hoki kemungkinan berasal dari bahasa perancis "hocquet" atau  shepherd's crook, dan merujuk pada stik bengkok yang digunakan untuk memukul bola kecil. Pertandingan ini menjadi lebih terorganisir di akhir abad ke 19 dan menjadi salah satu cabang olimpiade sejak tahun 1908.
Hingga tahun 1970an, permainan ini di level internasional dimainkan di rumput asli, tetapi telah menjadi semakin menarik dan terampil, india mendominasi olah raga ini selama lebih dari 3 dekade, memenangkan seluruh 6 mendali emas dan 30 pertandingan secara berturut-turut dari tahun 1928 hingga 1956. Balbir Sing, pemain awal yang kemudian diikuti oleh 4 pemain berikutnya yang bernama sama yang juga bermain untuk team pemenang asal India, dengan mencetak lima goal dengan nilai perolehan 6-1 memenangkan mendali emas terhadap belanda di Helsinki pada tahun 1952.


Kompetisi
Perlombaan Pria: Tim berada di 2 pool yang terdiri dari 6 ronde penyisihan. Setiap tim bermain dengan tim lainnya di pool tersebut. Tim yang menduduki peringkat 2 teratas dari setiap pool melanjutkan ke semi final. Sisa tim yang bermain di pertandingan klasifikasi untuk menduduki peringkat 5 hingga 12. Pemenang semi final bermain untuk memperebutkan mendali emas dan perak. Tim yang kalah dalam semi final bermain untuk memperebutkan mendali perunggu.
Perlombaan Wanita: Tim berada di 2 pool yang terdiri dari 5 ronde penyisihan. Setiap tim bermain dengan tim lainnya di pool tersebut. Tim yang menduduki peringkat 2 teratas dari setiap pool melanjutkan ke semi final. Sisa tim yang bermain di pertandingan klasifikasi untuk menduduki peringkat 5 hingga 10. Pemenang semi final bermain untuk memperebutkan mendali emas dan perak. Tim yang kalah dalam semi final bermain untuk memperebutkan mendali perunggu.

Kelas yang dipertandingkan
  • Hoki Putra
  • Hoki Putri
Macam jenis hoki:


1. Hoki lapangan ( field hockey)
2. Hoki ruangan ( indoor hockey)
3. Hoki es




Hoki sebagai alternatif menuju prestasi

Ajang Kejurnas Hoki ruangan memperebutkan piala bergilir Menegpora RI  yang merupakan gawean tahunan komunitas Hoki UNJ tahun 2012 mendatang akan memasuki tahun ke VII penyelenggaraan. Kejuaraan tersebut tak dapat dipungkiri kini merupakan even paling prestisius dengan organisasi penyelenggaraan paling apik, menjadikannya sebagai kejuaraan paling ditunggu oleh komunitas Hoki Mahasiswa negeri ini. Tidak berlebihan untuk menyebut gawean tahunan komunitas Hoki UNJ tersebut sebagai barometer pembinaan Olahraga Hoki tingkat perguruan tinggi di negeri ini.
  Implementasi regulasi terkini peraturan permainan Hoki ruangan, merupakan salah satu kelebihan Kejurnas Hoki ruangan Piala Menegpora dibandingkan even Hoki manapun yang digelar di republik ini. Ini pula yang menjadi salah satu dasar dihilangkannya sektor campuran ( sejak tahun 2011 ) walau dalam 5 penyelenggaraan sebelumnya sektor campuran terbukti punya pesona tersendiri yang menghadirkan sejumlah drama pertandingan mencekam. Tuan rumah terpaksa merelakan salah satu kategori pertandingan yang merupakan sektor unggulan tersebut demi menjaga kualitas, sekaligus penyesuaian dengan regulasi FIH yang tidak mempertandingkan kategori yang menggabungkan pemain putera dan puteri dalam satu tim baik di even Indoor maupun Outdoor ( Field Hockey ) .
Kualitas pula agaknya yang membuat Federasi Hoki Indonesia ( FHI ) sebagai induk organisasi tertinggi di negeri ini sejak tahun 2011 memandang perlu untuk menempatkan ajang prestisius perebutan piala Menegpora RI  dalam kalender resmi organisasi. Pembentukan tim nasional Hoki ruangan boleh jadi dapat bermula di arena ini. Sebuah percepatan luar biasa dan penghargaan tersendiri akan kualitas organisasi penyelenggaraan.
Jika selama ini di arena Hoki lapangan negeri ini miskin prestasi, mengapa kita tidak mencoba upaya akselerasi prestasi melalui cara lain yang lebih menjanjikan.
Hoki ruangan seiring dengan perjalanan waktu kini telah berkembang menjadi ajang prestisius tersendiri, terlebih setelah FIH dengan resmi menggelar kejuaraan hoki ruangan I pada tahun 2003 silam. yang kemudian berlanjut dengan hadirnya kejuaraan – kejuaraan sejenis di tiap zona FIH.
 Kisah spektakular Iran yang mampu menggebrak dan muncul sebagai kekuatan tersendiri di zona Asia dengan menyingkirkan kekuatan -  kekuatan mapan seperti Korea Selatan, India ataupun saudara serumpun Malaysia mungkin dapat dijadikan contoh menarik. Agaknya untuk sebuah akselerasi signifikan kita perlu melakukan perubahan besar dalam paradigma pembinaan Hoki .
Bukankah akan lebih mudah menemukan sebidang tempat untuk menggelar sebuah proses pembinaan ataupun meningkatkan frekuensi kompetisi sebagai jembatan menuju sebuah peningkatan prestasi dibandingkan memaksakan "konsep usang" memutar roda pembinaan dan kompetisi di atas lapangan rumput yang sangat - sangat tak laik pakai.
Sudah saatnya para pembina Hoki di negeri ini menggunakan logika akal sehat, dibandingkan harus terus bersikap keras kepala bak pungguk merindukan bulan, memendam asa hadirnya lapangan karpet berstandar internasional di tiap Provinsi yang biaya pembangunannya sangatlah mahal dan dipastikan tidak akan segera masuk dalam skala prioritas alokasi APBD di tiap daerah, sebuah renungan menarik........